JAKARTA [UNAS] – Fakultas Biologi Universitas Nasional menyelenggarakan praktek lapangan di  4 Pulau di Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Karang Beras, Pulau Karya, Pulau Opak Besar dan Opak Kecil pada tanggal 31 Desember 2016 – 2 Januari 2017.

Penelitian ini dilakukan oleh 11 mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional dengan didampingi oleh 2 mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi, dan dua Pembimbing, yaitu Dra. Noverita, M.Si dan Dr. Tatang Mitra Setia.

“Walaupun hanya praktek lapangan, kami menerapkannya dengan metode penelitian. Metode yang digunakan adalah line transect”. Imbuh Tatang Mitra Setia, yang juga merupakan Kepala Prodi Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional. Terdapat 3 kelompok mahasiswa yang diberikan tugas untuk mengambil sample dari antimikroba jamur laut, antimikroba stigi, dan antimikroba lamun.Sementara ujar Noverita penelitian ini  bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa bagaimana cara mengambil data dan mengetahui potensi serta manfaat keanekaragaman hayati pada suatu kawasan.

Selain 4 bidang penelitian tersebut yang diambil, juga dilakukan inventarisasi keanekaragaman jenis jamur dan burung, hal ini dikarenakan belum ada data mengenai keanekaragaman jamur dan burung di 4 pulau tersebut. Ratna Wati, selaku pendamping yang juga merupakan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional menjelaskan bahwa jamur memiliki fungsi yang sangat penting di alam, baik fungsi ekologis maupun untuk manusia. Secara ekologis, jamur dapat berperan dalam siklus nutrisi dalam memelihara kesuburan tanah.

Manfaat jamur untuk manusia sendiri, jamur dapat bermanfaat sebagai salah satu pangan alternatif karena mengandung banyak nutrisi, seperti protein, vitamin dan beberapa mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, terdapat juga jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai obat.

Turmidzi Fath salah satu mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional yang mengikuti praktek lapangan menyampaikan semoga kegiatan ini dapat terus dilakukan untuk mengetahui potensi keanekaragaman hayati di kepulauan Seribu. Harapannya, akan hadir para peneliti-peneliti muda di masa depan yang dapat mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *